Jumat, 07 Desember 2012

Daulah Umawiyah


I.       PENDAHULUAN

Bangsa Arab pra-islam dikenal sebagai bangsa yang sudah memiliki kemajuan ekonomi. Letak geografisnya yang strategis membuat islam yang diturunkan di Arab (Mekah) mudah tersebar keberbagai wilayah. Sehingga bangsa arab banyak menguasai daerah - daerah di Eropa terutama setelah masa Khulafaur Rosidin yakni pada masa Daulah Umayah.
Pada umumnya Pasca Khulafaur Rosidin , pemerintahan Islam sering kali dipandang tidak sesuai lagi dengan syariat Islam. Peristiwa pemberontakan ( Bughot ) wali Syam Muawiyah Kepada Khlifah Ali bin Abi Tholib yang diperangi dalam perang Shiffin, kemudian berlanjut dengna kekisruhan negara pada masa kekholifahan Ali yang diakhiri dengan terbunuhnya sang Kholifah oleh Kaum Khowarij.
Mulai dari masa Abu Bakar sampai kepada Ali bin Abi Tholib dinamakan periode Khilafah Rosyidah, . para Kholifahnya disebut Khulafaur Rosidin ( Kholifah yang mendapat petunjuk ). Ciri masa ini mereka betul – betul menurut pada teladan Nabi, mereka dipilih secara Musyawarah atau secara Demokratis. Sedangkan pada Masa Daulah Umayah pemerintahan islam berbentuk Kerajaan. Kekuasaan diturunkan secara turun temurun.
Pada makalah ini, kami akan membicarakan tentang peradaban Islam pada masa Dawlah Amawiyah , sejarah berdirinya  dan pola administrasi politik pemerintahan yang diterapkan serta perluasan wilayah yang dicapai pada masa Dawlah Amawiyah.


II.    PEMBAHASAN

A.          Sejarah Berdirinya Dawlah Amawiyah ( Bani Umayah )
Sepeninggal Ali bin Abi Tholib , Gubernur Syam tampil sebagai penguasa islam yang kuat . Masa kekuasaanya merupakan awal kedaulatan Bani Umayah. Muawiyah bin Abi Sufyan adalah pembangun dinasti Umayah dan sekaligus menjadi kholifah pertama. Ia memindahkan ibu kota kekuasaan Islam dari Kufah ke Damaskus.
Sebelum mengadakan pembrontakan , Muawiyah terlebih dahulu menyusun kekuatan yang besar dengan jalan : Pertama, mempersatukan keluarga Bani umayah. Kedua, Menghasut daerah-daerah selikar Syam untuk ikut bergabung dengannya. Setelah itu dengan kekuatan yang besar  Muawiyah berangkat ke madinah , maka terjadilah perang Shiffin.[1]
Muawiyah tumbuh sebagai pemimin karier. Pengalaman politik telah memperkaya dirinya dengan kebijaksanaan dalam memerintah, mulai dari menjadi seorang pemimpin pasukan dibawah komando panglima besar Abu Ubaidah  ibn Jarah yang berhasil merebut wilayah palestina, suriah dan mesir dari tangan imperium Romawi yang telah menguasai ketiga daerah itu sejak tahun 63 SM, lalu ia pernah menjabat kepala wilayah di Syam yang membawahi suriah dan Palestina yang berkedudukan di Damaskus selama kira - kira 20 tahun semenjak diangkat Kholifah Umar bin Khotob.
Keberhasilan Muawiyah mendirikan Dinasti Umayah bukan hanya akibat dari Kemenangan diplomasi di siffin dan terbunuhnya Ali saja melainkan beberaa hal yang mendukung antara lain ;
  1. Adanya dukungan yang kuat dari rakyat Suriah dan Keluarga Bani Umayah .
  2. Muawiyah sangat bijaksana dalam menempatkan para pembantunya pada jabatan – jabatan penting.
  3.  Muawiyah memiliki kemampuan menonjol sebagai negarawan sejati, bahkan mencapai tingkat Hilm , sifat tertinggi yang dimiliki oleh para pembesar Mekah.[2]
Gambaran dari sifat mulia tersebut dalam diri Muawiyah setidaknya tampak dalam keputusanyan yang berani memaklumkan jabatan kholifah secra turun temurun. Dengan tujuan menegakkan wibawa pemerintahan serta menjamin integritas kekuasaan di masa yang akan datang, maka Muawiyah dengan tegas menyelenggarakan suksesi yang damai dengan pembaitan putranya , Yazid .
B.           Para Kholifah Bani Umaiyah
Dinasti Umaiyah berkuasa hampir kurang satu abad, tepatnya 90 tahun , dengan 14 orang kholifah. Dimulai oleh Muawiyah bin Abi Sufyan dan ditutup oleh Marwan bin Muhammad. Adapun urut-urutan Kholifah Bani Umaiyah adalah sebagai berikut ;
Muawiyah I bin Abi sufyan
Yazid I bin Muawiyah
 Muawiyah II bin yazid
Marwan I bin Hakam
Abdul Malik bin Marwan
Al walid I bin Abdul Malik
Sulaiman bin Abdul Malik
Umar bin Abdul Aziz
Yazid II bin Abdul malik
Hisyam bin Abdul Malik
Al walid II bin yazid II
Ibrohim bin Al Walid II
Marwan II bin Muhammad
Dari keempat belas kholifah tersebut yang terbesar adalah Muawiyah bin Abi Sufyan ( 661- 680 M ), Abdul Malik bin Marwan ( 685 – 705 ) , Al Walid bin Abdul Malik ( 705-715 ) dan Umar bin Abdul Aziz ( 717 – 720 M )
Muawiyah adalah bapak pendiri Dinasti Umaiyah. Dialah pembangun yang besar. Namanya disejajarkan dalam deretan Khulafaurrosidin. Bahkan Kesalahannya yang menghianati prinsip pemilihan kepala Negara oleh rakyat, dapat dilupakan orang karena jasa- jasanya yang mengagumkan.
Muawiyah mendapatkan kursi kekholifahan setelah Hasan bin ali bin Abi Tholib berdamai dengannya ada tahun 41 H. Umat Islam sebagaianya membaiat Hasan setelah ayahnya wafat . namun Hasan menyadari kelemahanya sehingga ia berdamai dan menyerahkan kepemimpinan umat keada Muawiyah bin Abi Sufyan sehingga tahun itu dinamakan Amul Jamaah ( tahun persatuan.) Muawiyah menerima kekholifahan di Kufah dengan syarat-syarat yang diajukan oleh Hasan bin Ali, yakni
  1. Agar Muawiyah tidak menaruh dendam terhadap seorang pun penduduk Irak.
  2. Menjamin keamanan dan memafkan kesalahan – kesalahan mereka.
  3. Agar pajak tanah negeri Ahwaj diperuntukan kepadanya dan diberikan tiap tahun.
  4. Agar Muawiyah membayar kepada saudaranya 2 juta dirham.
  5. Pemberian kepada Bani Hasyim harus lebih banyak dari pemberian kepada Bani Abdis Syam.[3]

C.           Pola Adminstrasi politik pemerintahan dan Ekspansi Wilayah
Memasuki masa kekuasaan Muawiyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayah , pemerintahan yang bersifat Demokratis berubah menjadi Monarchiheridetis kerajaan turun temurun. Kekuasaan Muawiyah diperoleh dari kekerasan , dilomasi dan tipu daya , tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak. Suksesi kepempinan secara turun temurun dimulai ketika Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia kepada anaknya Yazid. Muawiyah mencoba mencontoh Monarkhi di Persia dan Bizantium. Dia tetap menggunakan istilah kholifah , namun demikian dia memberikan interpretasi barun dari kata-kata itu untuk menggagungkan jabatan tersebut. Dia menyebut Kholifah Allah, dalam pengertian penguasa yang diangkat oleh Allah.
Ekpansi yang terhenti pada masa Usman dan Ali dilanjutkan kembali oleh dinasti ini. Dizaman Muawiyah Tunisia berhasil ditaklukan sampai ke Khurosan. Ekpansi ke Timur dilakukan Oleh Abdul malik. Ia mengirim pasukanya menyeberangi sungai Oxus dan berhasil menundukan Samarkand, Bukhora bahkan sampai ke India dan dapat menguasai daerah Punjab sampai ke Maltan.
Ekpansi Ke barat secara besar-besaran dilanjutkan pada zaman Al Walid bin Abdul Malik. Pada masa pemerintahanya yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun ini tercatat suatu ekpedisi militer dari Afrika Utara sampai Benua Eropa pada tahun 711 M. Setelah Al Jazair dan Maroko ditaklukan Thoriq bin Ziyad menyeberangi selat dan mendarat disuatu tempat yang kenal dengan Gibraltar ( Jabal Thoriq ), tentara Spanyol dapat dikalahkan dan ibu kotanya Kordova dengan cepat dapat dikuasai.
Di zaman Umar bin Abdul Aziz , serangan dilakukan ke Prancis melalui pegunungan Piranee. Serangan ini dipimpin oleh oleh Abdurohman bin Abdullah Al Ghofiqi. Dengan keberhasilan ekpansi kebeberapa daerah, baik di Timur maupun di Barat, wilayah kekuasaan Islam pada masa Bani Umayah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syiria, Palestina, Al Jazair Irak, Afganistan Pakistan Uzbek dan Kirgis di Asia Kecil.
Disamping Ekpansi kekuasaan Islam , Bani Umayah juga banyak berjasa dalam pembangunan diberbagai bidang. Muawiyah mendirikan dinas Pos dan tempat – tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap serta perlengkapanya disepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dsan mencetak mata uang. Pada masanya jabatan khusus seorang hakim ( Qodhi ) mulai berkembang menjadi profesi tersendiri. Pada Masa Kholifah Abdul malik mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai didaerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu Ia mencetak Uang tersendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab. Kholifah Abdul Malik juga berhasil melakukan pembenahan – pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam.[4]
Meskipun keberhasilan banyak dicapai dinasti ini, namun tidak berarti bahwa politik dalam negeri dapat dikatakan stabil. Muawiyah tidak menaati isi perjanian dengah Hasan bin Ali ketika dia naik tahta. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid sebagai putra mahkota telah menyalahi isi perjanjian yang disebutkan bahwa persolan penggantian pemimpin diserahkan kepada pemilihan umat islam. Dengan demikian sehingga muncul gerakan-gerakan oposisi dikalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara .
D.          Runtuhnya Dinasti Bani Umaiyah
Ketika yazid naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan setia kepadanya. Yazid kemudian mengirim surat kepada Gubernur madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya., dengan cara ini semua orang terpaksa tunduk kecuali Husein  bin Ali dan Abdullah bin Zubair. Perlawanan terhadap Bani Umayah dimulai oeh Husein . pada tahun 680 M ia pindah dari Mekah ke Kufah atas permintaan golongan syiah yang ada di Irak. Umat islam disitu tidak mengakui Yazid. Mereka mengangkat Husein menjadi Kholifah. Dalam pertempuran yang tidak seimbang di Karbela tentara Husein kalah dan Husein sendiri mati terbunuh. Kepalanya dipenggal dan dikirim ke Damaskus sedangkan tubuhnya dikubur di Karbela.
Hubungan pemerintahan dengan golongan oposisi membaik pada masa Kholifah Umar bin Abdul Aziz ( 717- 720 M ). Ketika dinobatkan menjadi Kholifah, dia menyatakan bahwa akan memperbaiki dan meningkatkan negeri yang berada dalam kekuasaan islam dari pada menambah perluasanya. Dia juga memberi kebebasan kepada penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaanya. Pajak diperingan. Sepeniggal Umar bin Abdul Aziz kholifah berada dibawah Yazid  bin Abdul Malik, penguasa yang satu ini terlalu gandrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kepentingan masyarakat, sehingga kerusuhan semakin terjadi dan merajalela hingga kholifah berikutnya yakni Hisyam bin Abdul Malik. Sebenarnya Hisyam bin Abdul malik adalah seorang kholifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi , karena gerakan oposisi terlalu kuat kholifah tidak berdaya mematahkanya.
Sepeniggal Hisyam, kholifah-kholifah Bani Umayah yang tampil bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini makin memperkuat gerakan oposisi. Akhirnya pada tahun 750 M, Daulah Umayah dapat digulingkan Bani Abbas yang bersekutu dengan Abu Muslim Al Khurasani. Kholifah terakhir Bani Umayah Marwan bin Muhammad melarikan diri ke Mesir  dan ditangkap serta dibunuh.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan dinasti Bani Umayah lemah dan membawanya kepada kehancuran. Faktor-faktor itu antara lain :
  1. Sistem pergantian Kholifah melalui garis keturunan dalah sesuatu yang baru bagi tradisia Arab yang lebih menekankan segi Senioritas.
  2. Latar Belakang terbentuknya kedaulatan bani Umayah tidak dapat dilepaskan dari konflik-konflik politik
  3. Adanya pertentangan keras antara suku-suku Arab Utara ( Bani Qoys ) dan Suku Arab selatan ( Bani kalb ) pada masa Bani Umayah mencapai Puncaknya.
  4. Lemahnya Pemerintahan Daulah Bani Umayah yang disebabkan oleh sikap hidup mewah dilingkungan Istana.
  5. Munculnya Kekuatan baru yang dipelopori oleh Keturunan Bani Abbas yang secara langsung menyebabkan hancurnya Bani Umayah.[5]


III. KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa setelah Khulafaur Rosidin, kekholifahan jatuh ketangan Bani Umayah dengan Kholifah Pertamanya bernama Muawiyah bin Abi Sufyan yang dulunya sebagai Gubernur di Syam . Muawiyah memindahkan ibukota Negara yang berada di Kufah ke Damascus, serta mengubah sitem pemerintahan yang dari Demokratis Menjadi Monarchiheredites.
Dinasti Bani Umayah berkuasa kurang lebih selama 90 tahun dimulai dari tahun 661 M – 750 M / 41 H – 132 H ) dengan empat belas Kholifah yang memimpinya secara bergiliran. Dari Kholifah Pertama sampai terakhir yang terkenal adalah Kholifah Muawiyah, bin Abi sufyan, Abdul malik Bin marwan serta Umar bin Abdul Aziz. Selama Dinasti Umayah ini perluasan wilayah Islam sampai ke Negara Spanyol, Maroko dan Aljazair bahkan sampai ke Punjab India.
 Bani umayah juga banyak berjasa dibidang pembangunan seperti mendirikan dinas Pos dan membuat bentuk mata uang sendiri serta meresmikan bahasa arab sebagai bahasa resmi Negara. Pada Masa Alwalid berhasil  membangun jalan raya , pabrik-pabrik serta masjid-masjid yang Megah.
Bani Umayah mengalami kemunduran setelah terjadi banyak pembrontakan dan kerusuhan yang terjadi sehingga menyebabkan Stabilitas Keamanan menurun lebih-lebih ketika pembrontakan yang muncul dari keturunan bani Abbas yang didukung  oleh Abu Muslim Al Khuroasani serta mendapat dukungan dari Kaum Syiah dan Bani Hasyim hingga Bani Umayah Jatuh dan digantikan oleh  Bani Abassiah.



DAFTAR PUSTAKA


Abdul Mutholib, Sejarah Kebudayaan Islam, ( Jakarta , Dirjenbinbaga Islam, 1996 )
Ahmad Amin, Islam dari Masa ke Masa, ( Bandung, CV. Rusyda, 1987 )
Atang Abdul Hakim, Metode Studi Islam,( Bandung ,Rosdakarya, 1999 0
Ali Mufrodi, Is;lam di Kawasan Kebudayaan Arab, (  Ciputat, Logos Wacana Ilmu, 1997 )
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, ( Jakarta: Grafindo Persada , 2006  )
















[1] Abdul Mutholib, Sejarah Kebudayaan Islam, ( Jakarta : Dirjenbinbaga Islam, 1996 ) , h.307
[2] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, ( Ciputat: Logos wacana Ilmu, 1997 ), h. 70-71
[3] Ibid, h. 73
[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, ( Jakarta : Grafindo Persada, 2006 ) , h. 44
[5] Ibid, h. 48-49

K0nsep Pendidikan Ibnu Khaldun


KONSEP  PENDIDIKAN  IBNU  KHULDUN

I.                   Pendahuluan
Pendidikan Islam telah berlangsung kurang lebih 14 abad, yakni sejak zaman nabi Muhammad SAW diutus. Sejarah menunjukkan perkembangan kegiatan pendidikan pada masa klasik Islam adalah sebagai jembatan pengembangan keilmuwan klasik dan keilmuwan modern, akan tetapi generasi Islam selanjutnya tidak mewarisi semangat ilmiah yang dimiliki para pendahulunya, akibatnya prestasi yang pernah diraih berpindah tangan ke barat, karena mereka mau mempelajari dan meniru tradisi keilmuwan yang dimiliki Islam masa klasik dan mampu mengembangkannya lebih lanjut, hal ini sangat disayangkan dan ironis sekali di satu sisi orang Islam yang menemukan inovasi baru tetapi di sisi lain orang barat yang notabene kafir yang mengembangkannya.
Banyak para pemikir Islam klasik yang telah berjasa dalam memberikan sumbangsihnya tentang konsep-konsep dalam segala bidang disiplin ilmu terutama mengenai kependidikan yang salah satunya ialah IBNU KHALDUN yang merupakan tokoh besar di dunia Islam yang telah berhasil memaparkan buah pikirannya dalam kitab Mukaddimah sebagai karya monumental yang mengangkat nama dan martabatnya di dunia sehingga para pemikir barat memberikan pengakuan terhadap kebesaran Ibnu Khuldun diantaranya adalah Charles Issawy.[1]
Melalui pemikirannya yang inovatif, Ibnu Khuldun mencoba memunculkan konsep baru mengenai kependidikan yang mampu menggugah wacana berpikir dan menuju ke arah paradigma baru.
Bagaimana konsep pendidikan, metodologi dan teori Ibnu Khuldun, akan kami bahas dalam makalah ini lebih lanjut.



 
 

II.                Biografi Ibnu Khuldun
Nama asli Ibnu Khuldun ialah Wali ad din Abu Zaid Abdurrahman bin Muhammad Ibnu Khuldun al Hadrami al Idhbili, disingkat Ibnu Khuldun. Lahir di Tunisia pada 27 Mei 1332 M / 1 Romadhon 732 H dan wafatnya di Kairo 25 Romadlon / 19 Maret 1406 M. N J Dawood menyebutkan sebagai negarawan, ahli hukum, sejarawan dan sarjana.
Nenek moyangnya berasal dari Hadramaut yang kemudian bermigrasi ke Seville (Spanyol) pada abad 8 setelah semenanjung itu dikuasai Arab Muslim. Keluarga yang dikenal pro Umayyah ini selama berabad-abad menduduki posisi tinggi dalam politik di Spanyol sampai akhirnya hijrah ke Maroko beberapa tahun sebelum Seville jatuh ke tangan penguasa Kristen. Pada 1248 setelah itu mereka menetap di Tunisia di kota ini mereka dihormati pihak istana, diberi tanah milik dinasti Hafsiah. Sewaktu kecil Ibnu Khuldun sudah menghafal al-Qur’an dan Tajwid gurunya yang pertama adalah ayahnya sendiri, waktu itu Tunisia menjadi pusat Hijrah, Andalusia yang mengalami kekacauan akibat perebutan kekuasaan. Kehadiran mereka bersamaan dengan naiknya Abul Hasan pemimpin Bani Marin (1347). Ibnu Khuldun mendapatkan kesempatan belajar dari para ulama itu selain dari ayahnya yaitu dari ulama yang hijrah dari Andalusia. Ayah Ibnu Khuldun bernama Muhammad, beliau menguasai ilmu mendalam mengenai al-Qur’an dan ilmu fiqih, gramatika dan sastra.
Pada usia 17 tahun Ibnu Khuldun telah menguasai disiplin ilmu Islam klasik termasuk Ulum Aqliyah (ilmu kefilsafatan, tasawuf, metafisika) ia mengikuti madzhab Maliki disamping itu semua ia juga tertarik pada ilmu politik, sejarah, ekonomi, geografi dan lain-lain.[2]

 
Otaknya memang tidak puas dengan satu dua disiplin ilmu saja, disinilah letak kekuatan dan sekaligus kelemahan Ibnu Khuldun sehingga dari cacatan sejarah ia tidak dikenal menguasai satu bidang disiplin ilmu yang spesific.
Dalam usia 21 tahun, Ibnu Khuldun telah diangkat menjadi sekretaris sultan dinasti Hafs al Fadl yang berkedudukan di Tunisia tahun 751 H atau 1350 M, tetapi kemudian ia berhenti karena penguasa yang didukungnya kalah dalamsuatu pertempuran. Pada tahun 753 H dia ke Baskarah (al Jazair) dari sana ia berusaha bertemu dengan Abu Anan penguasa bani Marin yang sedang berada di Tilmisan. Pada tahun 775 H, ia diangkat menjadi anggota Majelis ilmu pengetahuan dan setahun kemudian ia diangkat menjadi sekretaris sultan sampai tahun 763 H (1361 – 1362 M) ketika Wazir Umar bin Abdillah murka kepada dan memerintahkannya untuk meninggalkan negeri itu.
Pada tahun 764 H ia berangkat ke Granada oleh Sultan bani Ahmar, ia diberi tugas menjadi duta negaa di Castillah dan berhasil tetapi kemudian hubungannya dengan Sultan mengalami keretakan. Tahun 766 H ia pergi ke Bijayah atas undangan penguasa bani Hafs, Abu Abdillah Muhammad yang mengangkatnya menjadi perdana menteri.
Tetapi kemudian ia pergi ke Baskarah ia berkirim surat kepada Abu Hammu, Sultan tilmisan dari Bani Abdil Wad kepada sultan ia memberikan dukungan, Sultan memberikan jabatan penting tetapi ia menolak karena ia ingin melanjutkan studinya secara autodidak, tatkala Abu Hammu diusir oleh Sultan Abdul Aziz (Bani Marin) Ibnu Khuldun berakhir pihak kepadanya akhirnya Tilmisan direbut kembali oleh Abu Hammu, meskipun pernah bersalah kepada penguasa Tilmisan itu ia berjanji pada diri sendiri untuk tiak terjun lagi dalam dunia politik. Ia akhirnya menyepi di qol’at Ibnu Salamah dan menetap disana sampai 780 H / 1378 M. Disinilah ia mengarang ktiab monumentalnya ”Al-I’barwa diwan al Mubtada’ wa al khabar fi Ayyam al-’Arab wa al Ajam wa al Barbar.
Pada tahun 780 H (1378) Ibnu Khuldun kembali ke tanah airnya Tunisia, untuk menelaah beberapa kitab yang diperlukan sebagai bahan revisi kitab al ’Ibar, pada tahun 784 H / 1382 M ia berangkat ke Iskandaria Mesir dengan maksud menghindari kekacauan politik di Magrib setelah sebulan ia ke Kairo, para ulama dan penduduk Kairo menyambut degan gembira. Di al Azhar, ia membentuk halaqoh dan memberi kuliah. Tahun 786 H raja menujuknya menjadi dosen dalam ilmu fiqih, beberapa tahun kemudian ia diangkat menjadi ketua pengadilan kerajaan selang beberapa lama keluarganya mendapat musibah, kapal yang membawa isteri, anak-anak dan harta bendanya tenggelam tatkala merapat ke iskandaria, pada tahun 801 H (1399) ia kembali diangkat sebagai ketua pengadilan dan pergi ke Baitul Maqdis tiga bulan setelah itu dia mengundurkan diri, pada tahun 803 H (1401 M) ia ikut menemani Sultan ke Damaskus dalam satu pasukan untuk menahan serangan Timur Lenk penguasa Mogul. Setelah kembali ke Kairo ia kembali diangkat menjadi ketua pengadilan kerajaan hingga akhir hayatnya.[3]

 
Ibnu Khuldun mempunyai banyak guru, adapun grunya yang pertama adalah ayahnya sendiri, selain itu ia juga belajar pada para ulama dan para sastrawan dari negara-negara Maghrib yang hijrah dari Andalusia, dia belajar al-Qur’an dari mereka, mempelajari dan mendalami ketujuh macam ara membaca serta qiroat Ya’qub. Dalam berbagai karyanya, Ibnu Khuldun mencatat nama-nama gurunya, menuliskan riwayat hidupnya, meneliti kedudukan mereka dalam menuliskan riwayat hidupnya, meneliti kedudukan mereka dalam dunia keilmuwan dan karya-karya mereka, diantara guru-gurunya adalah : Muhammad bin Saad bin burral al ansyari, Muhammad bin Al ’arabi Al Hasyairi, Muhammad bin Syawas al Zarzari, ahmad bin al Qosa Muhammad bin Barh, Muhammad bin Jabir al Qoisi dan lain-lainnya. Dari sekian banyak gurunya yang sangat berpengaruh terhadap pembentukannya dalam bidang keilmuwan syariat, bahasa dan filsafat, mereka itu adalah Muhammad bin Abdillah Muhaimin bin Abdil Muhaimin al Hadami seorang imam Muhaditsin dah ahli nahwu di Magribi. Kemudian Abu Abdillah Muhammad bin Ibrahim al abili dalam bidang ilmu rasional yang disebut juga dengan ilmu-ilmu filsafat, ilmu-ilmu hukum, logika, metafisika, fisika, ilmu falak dan musik.[4]

III.             Setting Sosial
Telah kita ketahui bahwa Ibnu Khuldun berasal dari keluarga terpelajar, neneknya pernah menjabat menteri keuangan Tunisia, sementara ayahnya sendiri seorang Administrator dan perwira militer dan moyangnya itu juga pemimpin politik di Seville dan pada waktu itu keilmuan dijadikan sebagai persyaratan untuk menjadi pemimpin. Pada waktu itu yang menjadi pemimpi Seville berada di tangan keluarga Khuldun dan keluarga bangsawan lainnya serta pengaruh kekuasaan lainnya berada di tangan Khuldun.
Dari sejarah dan pengalaman hidupnya serta berbagai rintangan yang dihadapinya, maka dari berbagai pengalaman itulah timbul konsep-konsep baru baik mengenai sosiolog sejarah dan pendidikan, jika dilihat dari berbagai pengalaman dalam berbagai pemerintahan yang berbeda dan selalu berganti-ganti maka ia adalah seorang diplomat ulung yang dapat bekerja sama dengan berbagai penguasa yang sedang berkuasa saat itu sehingga ia mampu menarik hati penguasa.

 
Al Faruqi menggambarkan situasi yang dihadapi Ibnu Khuldun dengan baik, yaitu sebagai berikut : ”Ini adalah abad tentang intrik politik, tentang suksesi kekuasaan yang cepat dan keras antara negara=negara muslim yang keadaan umumnya dalam kejatuhan dan kehancuran. Muslim berkomplot jahat satu sama lain, mengalihkan kesetiaannya dari pemerintahan kepenguasaan yang satu kepada yang lain demi pemenuan kepentingan pribadi. Ibnu Khuldun sepenuhnya sesuai dengan lingkungan semacam itu seakan-akan ia dilahirkan bukan hanya di dalamnya, tetapi untuk keadaan semacam itu.[5]


IV.             Metodologi
Dari pengalaman Ibnu Khuldun dalam perjalanan hidupnya yang mengalami silih bergantinya kekuasaan, akhirnya dia mengadakan pendekatan kepada penguasa dan pejabat, dengan pendidikan untuk/sebagai suatu proses untuk mewujudkan suatu masyarakat yang berkebudayaan serta masyarakat seutuhnya.
Dari sini kita lihat metode Ibnu Khuldun untuk merumuskan konsep pendidikan melalui pengalaman dan keahliannya sebagai ahli silsafat sejarah yaitu beliau menggunakan pendekatan filsafat sejarah atau ”HISTORICAL PHILOSOPHY APPROACH” dengan menghubungkan antara konsep dan realita, karena kedua pendekatan tersebut akan mempengaruhi sistem bergilir dan pemikirannya dalam pembahasan setiap permasalahan karena kedua pendekatan tersebut mampu merumuskan beberapa pendapat dan interpretasi dari suatu kenyataan dan pengalama yang telah dilalui, yang dimaksud dengan pendekatan filsafat sejarah atau historikal filosofi approach adalah suatu pendekatan sejarah yang mencoba menggali berbagai konsepsi para filosof tersebut telah ditemukan jawabannya oleh para filosof sepanjang jaman, sejarah dari hasil kajian tersebut akan menimbulkan fenomena baru atau konsep baru dari berbagai sudut tinjauan atau aliran pemikiran.[6]

V.                Teori

 
Dalam melakukan aktivitasnya mengenai keilmuan Ibnu Khuldun mempunyai pendapat sendiri mengenai definisi ilmu pengetahuan, menurutnya ilmu pengetahuan adalah kemampuan manussia untuk membuat analisa dan sintesa sebagai hasil pemikiran atau berpikir. Kesanggupan berpikir menurutnya ada 3 tingkatan, yaitu :
1.      Pemahaman intelektual manusia terhadap sesuatu yang ada di luar alam semesta dalam tatanan alam atau tatanan yang berubah-ubah, dengan maksud supaya dia dapat melaksanakan seleksi dengan kemampuan dia sendiri. Bentuk pemikiran ini kebnayakan berupa persepsi. Inilah akal benda (Al Aqlu al Tamyiszi) yang membantu manusia memerpoleh penghidupannya dan menolak segala sesuatu  yang sia-sia bagi dirinya.
2.      Berpikir yang memperlengkapi manusia dengan ide-ide dan perilaku yang dibutuhkan dalam pergaulan dengan orang bawaan dan megnatur mereka (Anak buah). Pemikrian ini kebnayakan persepsi (tashdiqot) yang dicapai satu demis atu melalui pengalaman hingga benar-benar diarasakan manfaatnya. Inilah yang dinamakan akal eksperimental (al aql al tajribi)
3.      Pemikiran yang melengkapi  manusia dengan ilmu dan pengetahuan hipotesis (dzat) mengenai sesuatu yang berada di belakang persepsi indra tanpa tindakan praktis yang menyertainya, inilah akal spekulatif (al Aql al Nadzri)
Jika tingkatan berpikir itu menyatu dalam diri manusia, maka akan mencapai kesempurnaan sebagai realitasnya, sebagai manusia intelektual murni serta memliki jiwa-jiwa perseptif yang disebutnya sebagai realitas manusia (haqiqoh al insaniah)
Untuk memperoleh pengetahuan, menurut Ibnu Khuldun haruslah mempunyai seorang guru, untuk pengawasan dengan melalui pengulangan dan pemahaman praktik sehingga melekat di dalamnya otak pikiran harus berorientasi kepada adanya penyatuan teori dan praktek.[7]



 
 

VI.             Ide-ide pokok Ibnu Khuldun Tentang Pendidikan
Selain ahli dalam bidang filsafat dan sosiologi, Ibnu Khuldun juga ahli dalam soal kependidikan. Hal ini karena dia tidak mengkhususkan dirinya dalam satu disiplin ilmu saja.
Konsep pemikiran atau ide pokok Ibnu Khuldun mengenai dasar-dasar pendidikan dan pengajarannya dikemukakan oleh Mustofa Amin dalam buknya ”Tarik At-Tarbiyah”, sebagai berikut :
1.      Dalam pengajaran agar disampaikan secara global pada tingkat permulaan kemudian secara terperinci, dalam hal ini dilakukan dengan tiga kali pengulangan.
2.      Pemakaian alat-alat peraga dalam pengajaran pada masa permulaan.
3.      Jangan mengulur-ulur waktu ketika murid sedang belajar vak/materi tertentu, dengan jalan memutuskan proses belajar dengan istirahat.
4.      Jangan mengajarkan definisi-definisi atau kaidah-kaidah umum pada pertama kali.
5.      Jangan membiarkan murid belajar dua macam ilmu dalam satu waktu.
6.      Pengajaran al-Qur’an dilakukan sejak dini.
7.      Agar tidak memperluas pembahasan dalam pelajaran-pelajaran ilmu alat.
8.      Guru jangan meringkaskan ilmu-ilmu dengan seringkas-ringkasnya, dalam kitab kecil yang dinamai matan, perkataannya ringkas dan sempit tetapi isinya luas dan dalam, sehingga sulit bagi siswa untuk memahaminya.
9.      Hendaknya guru jangan menugaskan murid-muridnya mempelajari bermacam-macam aliran dan guru hendaknya jangan membebani murid-muridnya  untuk meneliti buku-buku serta ilmu apa yang ditulis dalam buku-buku.
10.  Bepergian ke negeri-ngeri lain untuk menambah ilmu menambah  pengalaman dan pengetahuan karena kita memerlukan wawasan yang mungkin tidak dapat diperoleh dalam kampung sendiri.
11.  Cinta kasih kepada anak-anak, membina mereka dengan penuh keakraban , lemah lembut dan jangan keras dan kasar.
12.  Mendidik anak remaja berdasarkan pemberian contoh suri tauladan yang baik.

VII.          Analisis
Ilmu adalah sesuatu yang sangat penting dalam hidup ini karena melalui tingkatan ilmulah akan terlihat seseorang itu berada pada tingkatan yang mana baik dihadapan Allah maupun dihadapan manusia. Ilmu dianugerahkan oleh Allah sebagai modal dasar bagi manusia untuk mengolah sumber daya alam agar menusia lebih mengembangkan potensi dalam mengenal dan mengabdikan dirinya di hadapan Allah SWT. Maka Ibnu Khuldun, adalah salah seorang yang mengembangkan ilmu pengetahuan. Ada beberapa hal yang menyebabkan Ibnu Khuldun memiliki kecemerlangan pemikiran-pemikiran sebagai seorang ahli sejarah dan penemu ilmu pengetahuan antara lain sebagai berikut, yaitu :
1.      Ia mendapat kecerdasan fitrah yang luar biasa.
2.      Mempunyai kemampuan dalam mengadakan pengamatan dan pengaitan atara sebab dan musabab.
3.      Mempunyai pengalaman yang luas dalam kehidupan politiknya yang penuh kegoncangan dan revolusi.
4.      Sering mengembara antara barat dan timur, antara eropa, asia dan afrika utara.
5.      Memiliki ilmu pengetahuan yang luas yang disatu sisi diperolehnya dari membaca serta mempelajari kitab-kitab, disisi lain dari pengamatannya yang cermat selama mengembara dan bergaul dengan bermacam-macam bangsa dan warga negara.




Dari beberapa uraian tersebut diatas, maka pemikiran Ibnu Khuldu mengenai ilmu pengetahuan berorientasi pada :
1.      Tidak adanya pemisahan antara ilmu teoritis dan ilmu praktis.
2.      Orientasi kepada pengadaan ilm agama yang disembangkan ilmu aqliyah.
3.      Orientasi pada anggapan bahwa tugas mengajar adalah alat terpuji untuk memperoleh rizki.
4.      Orientasi menjadikan pengajaran bersifat umum mencakup aspek-aspek berbagai ilmu pengetahuan, serta jauh dari spesialisasi sempit sambil memperdalam ilmu alam seperti ilmu bahasa dan Mantiq.
Dilihat dari tujuan dan orientasi pendidikan, Ibnu Khuldun dan          al Ghozali terdapat perbedaan yang menonjol, pendapat dan rumusan pendidikan Ibnu Khuldun adalah merupakan reformasi terhadap pendapat Imam Ghozali yang mencolok adalah dari segi tujuan pendidikan dan mengenai gaji guru pendiikan agama.
Menurut al Ghozali, menuntut ilmu pengetahuan itu bukanlah untuk memperoleh tetapi tujuan paling tinggi adalah untuk memperoleh ridlo Allah dan untuk menikmati kehidupan yang abadi di akherat kelak. Ilmu pengetahuan haruslah dilengkapi dengan amal. Dia mengakan seorang manusia pastilah akan binasa kecuali orang yang berilmu dan orang yang berilmupun akan binasa kecuali orang yang beramal dan orang yang beramalpun akan binasa kecuali orang yang ikhlas.[8]
Sedangkan menurut Ibnu Khuldun tujuan pendidikan itu sebagai berikut :
1.      Memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan bekrja.
2.     

 
Memperoleh berbagai ilmu pengetahuan sebagai alat untuk membantunya hidup dengan baik did alam masyarakat yang maju dan berbudaya.
3.      Memperoleh lapangan pekerjaan, yang digunakan untuk memperoleh rizki.
Pandangan pemikiran Ibnu Khuldun banyak diikuti oleh pemikir timur dan barat dan menjadi seolah satu tinggak kemajuan pendidikan dunia.



























DAFTAR  PUSTAKA

Ahmad, Jamil , Seratus Muslim Terkemuka, (Jakarta : Pustaka firdaus, 1987)
Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, Ensiklopedia Islam 2, (Jakarta : PT. Ichtiar Baru Van Hovw, 1994)
Abdul, Kholik, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1999)
Ma’arif, Ahmad, Ibnu Khuldun dalam Pandangan Pemikir Timur dan Barat, (Jakarta : Gama Insani Pers, 1996)
Abdul, Kholik, Pemikiran Pendidikan Islam ........, (Jakarta : Pustaka Pelajar, 1999)
Busyairi Madjid, Konsep Kependidikan Para Filosof Muslim, (Jakarta : al Amin Pers, 1997)
Nata, Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Pt. Logos Wacana Ilmu, 1997)





















TUGAS AKHIR

SEJARAH BIOGRAFI MUHAMMAD NATSIR

Mata Kuliah : Penelitian Sejarah
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Hj. Ismawati, M.Ag
 











Disusun Oleh :
SIROJUL HUDA
NIM. 085112072





PROGRAM PASCASARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2009


[1] Kholiq Abdul, Pemikiran Pendiikan Islam …, (Jakarta : Pustaka Pelajar, 1999), hal. 1
[2] Muhsin Mahdi, Ibnu Khuldun’s Philosopi of History, (Chicago the University of Chicago Pers, 1971). Hal. 27
[3] Jamil Ahmad, Seratus Muslim Terkemuka, (Jakarta : Pustaka firdaus, 1987), hlm. 159
[4] Abdul Kholik dkk, Pemikiran Pendidikan Islam,  (Yoyakarta : Pustaka Pelajar, 1999) hlm. 11
[5] Ahmad Ma’arif, Ibnu Khuldun dalam Pandangan Pemikir Timur dan Barat, (Jakarta : Gama Insani Pers, 1996), hlm. 13
[6] Abdul Kholik, Op. Cit., hlm. 16
[7] Abdul Kholik, Ibid, hlm. 20
[8] Abdul Kholik, dkk, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1999) hlm. 21

Biografi Natsir


A.Riwayat Hidup Muhammad Natsir

Muhammad Natsir dilahirkan pada tanggal 17 Juli 1908 di Alahan Pajang, sebuah desa yang berhawa dingin terletak dalam daerah kabupaten Solok Provinsi Sumatera Barat, dengan gelar Datuk Sinaro, anak ketiga dari empat bersaudara. Natsir adalah orang yang penuh sopan santun, rendah hati dan bersuara lembut meskipun terhadap lawan-lawan politiknya.. Ayahnya bernama Idris Sutan Saripodo seorang juri tulis kontrolir dimasa pemerintahan Belanda. Ibunya bernama Khodijah yang dikenal taat memegang nilai-nilai ajaran Islam.[1]
Sebagai seorang pegawai bawahan, ayahnya sering berpindah tugas dari satu daerah lain. Semula ditugaskan di daearah asalnya Alahan Panjang, kemudian dipercaya menjadi asisten demang di Bonjol, berikutnya menjadi juru tulis kontrolir di Maninjau, lalu dimutasikan sebagai sipir di Bekuru Sulawesi Selatan menjelang pensiun dikembalikan lagi ke tempat tugas semula di Alahan Panjang.
Kondisi kehidupan orangtua yang sering berpindah tugas, ikut pula mempengaruhi latar belakang pendidikan Muhammad Natsir. Pada awalnya ia belajar pada sekolah rakyat di Maninjau yang memakai bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. Ketika ayahnya dipindahkan ke Bekeru, ia tinggal bersama pamanya di Padang dan mengikuti pendidikan formal di HIS  (Hollandsch Inlandschs School) Adabiah, suatu sekolah swasta yang dikelola Haji Abdullah Ahmad dengan system pendidikan mengacu pada sekolah Belanda yang dilengkapi dengan pelajaran agama Islam. Lima bulan berselang , ketika di daerah Solok dibuka HIS Negeri, Natsir dipindahkan oleh orang tuanya ke HIS yang baru tersebut dan dititipkan pada Haji Musa seorang saudagar yang cukup terkenal di daerah Solok.
Di tempat ini Natsir tidak hanya belajar di lembaga pendidikan formal , tapi pada sore hari ia mendalamai pengetahuan agama di Madrasah Diniyah dan pada malam harinya belajar mengaji al Qur’an di Surau sekaligus mempelajari bahasa Arab, Surau itu bernama Surau Dagang (Surau Pasa Al-Wustha, sekarang sudah menjadi masjid), yang didirikan para pedagang di sekitar Alahan Panjang.Tiga tahun lamanya Natsir belajar di Solok tersebut dan seterusnya pindah ke HIS padang dinilai lebih bermutu jika dibandingkan dengan HIS Solok.
Ketika menamatkan pendidikan di HIS Padang Natsir berhasil meraih prestasi yang istimewa sehingga ia diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yakni MULO  (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dengan mendapatkan beasiswa dari pemerintahan Belanda. Di sekolah tersebut Natsir belajar bersama dalam satu kelas dengan murid-murid keturunan Belanda.[2]
Dengan berdirinya berbagai organisasi kepemudaan, seperti Jong Sumatera dan Jong Islamieten Bond wadah ini dimanfaatkan Natsir sebagai tempat berhimpun  dan berlatih mempersiapkan diri sebagai calon pemimpin bangsa di masa depan. Melalui aktivitas berorganisasi inilah mulai tumbuh kesadaran dalam diri Natsir tentang pentingnya hidup bermasyarakat dan bernegara.
Berangkat dari ketekunanya dalam belajar , akhirnya berhasil merampungkan pendidikanya di MULO Padang dengan prestasi memuaskan sehingga ia kembali mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Belanda untuk melanjutkan pendidikan di AMS (Algemeene Midel School) di bandung, yakini pendidikan setara SMA untuk jurusan Sastra Barat Klasik.
Sebagai seorang yang pernah hidup dalam suasana tradisi religius dan memahami pengetahuan agama yang memadai, ia menilai bahwa pola pendidikan yang diterapkan penjajah Belanda tidak sesuai dengan harapannya sebagai pribadi Muslim, karena tidak hanya akan mendangkalkan kesadaran keberagamaan siswa , lebih dari itu akan membuat antipati terhadap ajaran agama yang dianutnya. Apalagi setiap minggu merekan diwajibkan mendengarkan ceramah agama yang disampaikan oleh pendeta di Gereja, sudah barang tentu  hal ini merupakan strategi pemurtadan bagi siswa yang beragama Islam. Pada suatu ketika pendeta Chirtoffels pernah menyampaiakan ceramahnya tentang Islam dan dipublikasikan dalam surat kabar AID (Algemeen Indischs Dagblad) sebuah harian yang berbahsa Belanda, terkesan isinya sarat dengan penyimpangan fakta dan melecehkan sakralitas ajaran Islam.[3]
Berbekal pengetahuan yang diperoleh ketika masih belajar di kampong halaman, dilengkapi dengan bimbingan seorang ulama radikal yang dikenal sangat luas pengetahuanya bernama Al Hassan. Natsir mencoba memberikan reaksi terhadap ceramah pendeta itu melalui media yang sama.
Bimbingan yang diberikan Al Hassan dalam masalah agama , telah membekas begitu mendalam pada diri natsir. Juga ikut pula mempengaruhi keputusan yang diambilnya setelah menamatkan pendidikan di AMS Bandung. Tokoh lain yang tidak kalah pentingnya dalam pembentukan intelektual  Natsir adalah Haji Agus Salim, perkenalanya terjalin melalui aktvitas natsir sebagai pengurus organisasi JIB (Jong Islamieten Bond). Wadah ini telah banyak memberi kesempatan pada Natsir untuk berkunjung dan mandapatkan bimbingan langsung dari tokoh-tokoh intelektual muslim yang berpengaruh ketika itu seperti haji Agus Salim. HOS Cokroaminoto dan A.M Sangadji. Khusus Haji Agus Salim , sebagaimna dikatakan Ahmad Syafii maarif bahwa tokoh yang disebut terakhir  telah mewariskna segala-galanya  pada Natsir, meliputi kejujuran, intelektualisme Islam , sikap percaya diri, kecakapan mengurus Negara, kesetian pada prinsip – prinsip perjuangan, rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap nasib bangsa dan negara.
Natsir sendiri dalam tulisanya pernah mengungkapkan ketika berkunjung pada Haiji Agus Salim, suasana pendidikan yang diberikan muncul sedemikian rupa , yakni ikhlas , terbuka dan penuh kerelaaan . Pengetahuanya yang luas , baik dalam bidang agama maupun bidang kemasyarakatan menjadikn setipa orang betah untuk bertanya dan berdialog dengannya.
Di samping seperti kedua orang seperti diatas , tokoh lain yang memiliki andil dalam mengisi pemahaman keagamaan Natsir dalah Syeikh Ahmad Soorkoti, seorang ulama reformis  yang berwawasan luas dari kalangan organisasi al –Irsyad. Berbeda dengan Al Hassan yang pemahaman agamanya lebih bersifat tekstual normative, maka Ahmad Aoorkoti telah bercorak konstektual dan berorientasi ke masa depan. Ia memposisikan diri sebagai pengikut Muhammad Abduh. Melalui ulama inilah ,Natsir lebih banyak mengenal pemikiran pembaharuan yang dikembangkan Muhammmad Abduh  di Mesir, terutama melalui berbagai karya tulisanya.
Setelah menamatkan pendidikanya di AMS Bandung (1930), Natsir diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atas biaya pemerintah. Ada dua lembaga pendidikan tinggi yang dapat menerimanya ketika itu yakni, Recht Hogeschool (Fakultas Hukum) di Jakarta atau ke Fakultas Ekonomi di negeri Belanda. Kesempatan emas tersebut ditolaknya dan ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi manapun karena ingin memperdalam pengetahuanya tentang Islam sekaligus ingin segera berbakti untuk kepentingan masyarakat dan bangsanya. Dengan demikian pendidikan formal yang dilaluinya berakhir sampai sebatas manamatkan AMS di Bandung
Keterlibatan Natsir dalam bidang pendidikan telah dimulainya sejak ia menamatkan sekolah AMS di bandung tahun 1930. Aktivitasnya dalam bidang pendidikan dimulainya dengan mengadakan kursus sore hari. Ternyata kursus sore hari berkembang dan berubah menjadi suatu  lembaga pendidikan yang bernama “ Pendidikan Islam “ disingkat “Pendis” pada tahun  1932. Selama sepuluh tahun , yaitu dari tahun 1932-1942 “ Pendis “ berkembang dari mulai taman kanakkanak, HIS, MULO dan Kweekschool (sekolah guru). Setelah Jepang masuk ke Indonesia, Pendis telah berkembang keberbagai kota di Jawa Barat. Beberapa bulan sebelum Indonesia Merdeka tepatnya pada April 1945, ia terlibat dalam pendirian sekolah tinggi Islam bersama Bung Hatta , A. Kahar Muzakkir, . Setelah dikembangkan ke Yogyakarta, intitusi ini berkembang menjadi UII yang sekarang. UII selain tertua juga yang terbesar dari seluruh universitas Swasta dan bercorak Islam di tanah air sekarang ini.
Dari sekian banyak kegiatan yang dilakukan oleh Natsir , diduga kegiatan dalam bidang pendidikan merupakan puncak dari cita-cita yang didambakanya. Tampaknya Intitusi Pendidikan tersebut Natsir benar-benar dapat menerapkan cita-citanya mengenai pembaharuan Islam, yang neburut pemahamanya, cocok untuk kebutuhan mesyarakat. Agaknya tidak mengherankan, kalau sampai akhir hayatnya kegiatan pendidikan selalu ditekuninya.
Dalam dunia politik Beliau adalah Pendiri dan pemimpin partai MASYUMI (Majlis Syuro Muslimin Indonesia). Natsir telah mengembalikan Indonesia dari Republik Indonesia Serikat (RIS) ke Republik Indonesia. Natsir jua yang menyatukan kembali NKRI dengan cara damai tanpa ada tetesan darah.. Dalam dunia internasional, Natsir adalah Anggota Dewan Pendiri Rabithah Alam Islami (World Moslem League), juga pernah menjadi sekjennya. Dalam pemerintahan beliau pernah menjadi pedana menteri dan beberapa kali menjadi menteri. Beliau dikenal juga dengan the founding fathers. Natsir tidak hanya dikenal di Indonesia, tapi juga di dunia Islam. Abdullah Al-’Aqil dalam bukunya, Min A’lami Al-Harakah wa Ad-Da’wah Al-Islamiyah Al-Mu’ashirah, menulis biografi singkat DR. Muhammad Natsir (satu-satunya dari Indonesia) Natsir memang mengonsentrasikan kegiatannya untuk umat Islam dan kemudian memimpin Dunia islam. Dapat dikatakan, Natsir adalah anak bangsa Indonesia yang pernah menjadi tokoh Dunia Islam yang begitu dihormati sepanjang sejarah Indonesia bahkan sampai sekarang.[4]
Tahun 1967 beliau tidak terjun lagi ke dunia politik dan focus pada dakwah, beliau mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang aktif dalam gerakan amal tidah hanya di Jakarta tapi juga di daerah, beliau membantu dalam pendirian rumah sakit Islam dan pembangunan mesjid, dan mengirim mahasiswa tugas belajar mendalami Islam di Timur Tengah.Tahun 1980 beliau ikut terlibat dalam kelompok petisi 50 yang mengeritik Suharto Ia dicekal dalam semua kegiatan, termasuk bepergian ke luar negeri. Sejak itu Natsir hanya focus dalam kegiatan dakwah. (Dewan Dakwah Salemba Jakarta) yang juga berfungsi sebagai masjid dan pusat kegiatan diskusi, serta terus menerus menerima tamu mengenai kegiatan Islam.Atas segala jasa dan kegiatannya pada tahun 1957 Natsir memperoleh bintang kehormatan dari Republik Tunisia untuk perjuangannya membantu kemerdekaaan Negara-negara Islam di Afrika Utara. Tahun 1967 dia mendapat gelar Doktor HC dari Universitas Islam Libanon dalam bidang politik Islam, menerima Faisal Award dari kerajaan Saudi Arabia pada tahun 1980 untuk pengabdiannya pada Islam dan mendapatkan gelar Dr HC dari Universitas Sains dan Teknologi Malaysia pada tahun 1991 dalam bidang pemikiran Islam. Beliau mendapat gelar pahlawan nasional pada tgl 10 November 2008, walaupun ada pro dan kontranya. tapi jauh sebelum itu beliau sudah menjadi pahlawan bagi masyarakat Indonesia Pada tanggal 7 Februari 1993 Natsir meninggal dunia di Jakarta dan dikuburkan di TPU Karet, Tanah Abang
.Tidak sedikit tokoh umat yang terinspirasi (atau merasa terinspirasi) oleh Natsir. Tokoh-tokoh yang pernah melejit sebagai 'intelektual muda Islam', hampir selalu pernah dianggap sebagai Natsir muda. Yusril Ihza Mahendra, misalnya. Juga Amien Rais. Anwar Ibrahim dari Malaysia pun tak luput dari  masa dianggap sebagai Natsir muda. Tentu banyak nilai-nilai Natsir yang diserap para tokoh itu. Tapi, tak semua mampu mengikuti seluruh sisi Natsir. Ada yang gagal meneladani kesederhanaan dan kerendahatian Natsir.
Natsir juga bukan sosok yang selalu sabar. Sesekali ia juga masih tampak marah. Tetapi, dalam konteks membangun umat dan bangsa, ia seorang pendakwah sejati. Seorang yang selalu berpegang pada prinsip-prinsip kesantunan dan kesabaran dalam melangkah. Prinsip itu selalu dijaganya. Dengan kesantunan dan kesabaran ia jaga keutuhan bangsa dan umat ini. Baginya, bangsa dan umat bagai dua sisi berbeda dari keping mata uang yang  sama. Langkah-langkahnya hampir selalu diperuntukkan bagi bangsa dan umat sekaligus.

B.Perjuangan Muhammad Natsir

Ketika Belanda hendak menjadikan Indonesia negara serikat, Muhammad Natsir menentangnya dan mengajukan pembentukan negara Kesatuan Republik Indonesia. Usulan ini disetujui 90% anggota Masyumi. Tahun 1950, ia diminta membentuk kabinet sekaligus menjadi perdana Menterinya. Tapi belum genap setahun ia dipecat karena bersebrangan dengan presiden Soekarno. Ia tetap memimpin Masyumi dan menjadi anggota parlemen hingga tahun 1957. Pidatonya yang berjudul :“Pilihlah salah satu dari dua jalan, Islam atau Atheis. yang disampaikan di parlemen Indonesia dan dipublikasikan majalah “Al Muslimin”, punya pengaruh besar pada anggota parlemen dan masyaakat muslim Indonesia.[5]
Saat menerjuni bidang politik, Muhammad Natsir adalah sorang politikus piawai dan ketika menerjuni medan perang, ia menjadi panglima yang gagah berani, dan saat berdebat dengan musuh, ia tampil sebagai pakar ilmu dan dakwah. Muhammad Natsir menentang serangan membuta yang dilancarkan para antek-antek penjajah dan para kaki tangan Barat maupun Timur, dengan menerbitkan majalah Pembela Islam. Ia juga menyerukan Islam sebagai titik tolak kemerdekaan dan kedaulatan, pada saat Soekarno dan antek-anteknya menyerukan nasionalisme Indonesia sebagai titik tolak kemerdekaan.
 Soekarno bersekutu dengan Komunis yang terhimpun dalam Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk melawan Muhammad Natsir dan Partai Masyumi. Pertarungan ini berlangsung hingga tahun 1961, Soekarno membubarkan Partai Masyumi dan menahan pemimpinnya, terutama Muhammad Natsir.Namun perlawanan kaum muslimin Indonesia tidak padam, terus berlanjut hingga terjadi revolusi militer yang berhasil menggulingkan Soekarno pada tahun 1965.
Dikalangan Islam garis keras, banyak yang berusaha melupakan kedekatan pikirannya dengan demokrasi Barat, seraya menunjukkan betapa gerahnya Natsir menyaksikan agresivitas misionaris Kristen di tanah air ini. Dan di kalangan Islam moderat, tidak sedikit yang melupakan periode ketika bekas perdana menteridari Partai Masyumi ini memimpin Dewan Dakwah Islamiyah, seraya mengenang masa tatkala perbedaan pendapat tak mampu memecah-belah bangsa ini.
Pluralisme, waktu itu, sesuatu yang biasa. Memang Mohammad Natsir hidup ketika persahabatan lintas ideology bukan hal yang patut dicurigai, bukan suatu pengkhianatan. Natsir pada dasarnya anti komunis. Bahkan keterlibatannya kemudian dalamPemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), antara lain, disebabkan oleh kegusaran pada pemerintah Soekarno yang dinilainya semakin dekat dengan Partai Komunis Indonesia. Masyumi dan PKI, dua yang tidak mungkin bertemu. Tapi Natsir tahu politik identitas tidak di atas segalanya. Ia biasa minum kopi bersama D.N. Aidit di kantin gedung parlemen, meskipun Aidit menjabat Ketua Central Committee PKI ketika itu.[6]
Perbedaan pendapat pula yang mempertemukan Bung Karno dan Mohammad Natsir, dan mengantar ke pertemuan-pertemuan lain yang lebih berarti. Waktu itu, penghujung 1930-an, Soekarno yang menjagokan nasionalisme- sekularisme dan Natsir yang mendukung Islam sebagai bentuk dasar negara terlibat dalam polemik yang panjang di majalah Pembela Islam. Satu polemik yang tampaknya tak berakhir dengan kesepakatan, melainkan saling mengagumi lawannya.Lebih dari satu dasawarsa berselang, keduanya "bertemu" lagi dalam keadaan yang sama sekali berbeda. Natsir menjabat menteri penerangan dan Soekarno presiden dari negeri yang tengah dilanda pertikaian partai politik. Puncak kedekatan Soekarno-Natsir terjadi ketika Natsir sebagai Ketua Fraksi Masyumi menyodorkan jalan keluar buat negeri yang terbelah-belah oleh model federasi. Langkah yang kemudian populer dengan sebutan Mosi Integral, kembali ke bentuk Negara kesatuan, itu berguna untuk menghadang politik pecah-belah Belanda.[7]
Mohammad Natsir, sosok artikulatif yang selalu memelihara kehalusan tutur katanya dalam berpolitik, kita tahu dan tak bisa menghindar dari konflik keras dan berujung pada pembuktian tegas antara si pemenang dan si pecundang. Natsir bergabung dengan PRRI/Perjuangan Rakyat Semesta, terkait dengan kekecewaannya terhadap Bung Karno yang terlalu memihak PKI dan kecenderungan kepemimpinan nasional yang semakin otoriter. Ia ditangkap, dijebloskan ke penjara bersama beberapa tokoh lain tanpa pengadilan.
Dunianya seakan-akan berubah total ketika Soekarno, yang memerintah enam tahun dengan demokrasi terpimpinnya yang gegap-gempita, akhirnya digantikan Soeharto. Para pencinta demokrasi memang terpikat, menggantungkan banyak harapan kepada perwira tinggi pendiam itu. Soeharto membebaskan tahanan politik, termasuk Natsir dan kawan-kawannya. Tapi tidak cukup lama Soeharto memikat para pendukung awalnya. Pada 1980 ia memperlihatkan watak aslinya, seorang pemimpin yang cenderung otoriter.
Natsir yang konsisten itu tidak berubah, seperti di masa Soekarno dulu. Ia kembali menentang gelagat buruk Istana dan menandatangani Petisi 50 yang kemudian memberinya stempel "musuh utama" pemerintah Soeharto. Para tokohnya menjalani hidup yang sulit. Bisnis keluarga mereka pun kocar-kacir karena tak bisa mendapatkan kredit bank. Bahkan beredar kabar Soeharto ingin mengirim mereka ke Pulau Buru, pulau di Maluku yang menjadi tempat tahanan politik pengikut PKI. Soeharto tak memenjarakan Natsir, tapi dunianya dibuat sempit para penandatangan Petisi 50 dicekal
Mohammad Natsir meninggalkan kita pada 1993. Dalam hidupnya yang cukup panjang, di balik kelemah lembutannya, ada kegigihan seorang yang mempertahankan sikap. Ada keteladanan yang sampai sekarang membuat kita sadar bahwa bertahan dengan sikap yang bersih, konsisten, dan bersahaja itu bukan mustahil meskipun penuh tantangan. Hari-hari belakangan ini kita merasa teladan hidup seperti itu begitu jauh, bahkan sangat jauh.


C. Manhaj Dakwah Muhammad Natsir

      Keluar dari penjara, Muhammad Natsir dan rekan-rekannya mendirikan Dewan Dakwah Islam Indonesia yang memusatkan aktivitasnya untuk membina masyarakat, mengerahkan para pemuda, dan menyiapkan dai. Kemudian cabang-cabang DDI terbentuk di seluruh Indonesia, dan generasi muda dapat mengenyam fikrah Islam yang benar, memberi pengarahan kepada masyarakat, mendirikan pusat-pusat kegiatan Islam (Islamic Center) dan masjid, menyebarkan buku-buku Islam, membentuk ikatan-ikatan pelajar Islam, serta mendirikan beberapa asosiasi profesional: para insinyur, petani, pekerjadan lain-lain. Ia juga menjalin hubungan dengan gerakan-geraka Islam Internasional, untuk saling tukar pengalaman dan saling mengokohkan persatuan. tahun 1967, Muhammad Natsir dipilih menjadi Wakil Ketua  Muktmar Islam Internasiomal di Pakistan.
Muhammad Natsir sangat seius memperhatikan masalah Palestina. Ia temui tokoh, pemimpin dan dai di negara-negara Arab dan Islam untuk membangkitkan semangat membela Palestina, setelah kekelahan tahun 1967. siang dan malam Muhammad Natsir berkunjung ke wilayah di Indonesia untuk urusan dakwah. Rakyat Indonesia mulai mendekati dai untuk mengenal Islam yang benar. Kesadaran berislam pun merebak dikalangan mahasiswa dan pelajar, juga menyentuh para intelektual.[8]

D. Ungkapan-ungkapan Muhammad Natsir

 “Islam tidak terbatas pada aktivitas ritual muslim yang sempit, tapi pedoman hidup bagi individu, masyarakat dan negara. Islam menentang kesewenang-wenangan manusia terhadap saudaranya. karena itu, kaum muslimin harus berjihad untuk mendapatkan kemerdekaan. Islam menyetujui prinsip-prinsip negara yang benar. Karena itu, kaum muslimin harus mengelola negara yang merdeka berdasarkan nilai-nilai Islam. Tujuan ini tidak terwujud jika kaum muslimin tidak punya keberanian berjihad untuk mendapatkan kemerdekaan, sesuai dengan nilai-nilai yang diserukan Islam. Mereka juga harus serius membentuk kader dari kalangan pemuda muslim yang terpelajar.”
Saat diwawancarai dengan redaktur majalah “Al-Wa’yul Islami” Kuwait di kediaman Muhammad Natsir pada tahun 1989, Muhammad Natsir berkata: “Saya tidak takut masa depan, karena tidak ada bahaya. Masa depan milik Umat Islam, jika mereka tetap istiqomah, baik secara pribadi atau kolektif.” Ketika redaktur bertanya tentang tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam dirinya dan mempengaruhi perjuangannya, Muhammad natsir menjawab: “Haji Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini, Imam Asy Syahid Hasan Al-Banna dan Imam Al-Hudhaibi. Sedang tokoh - tokoh Indonesia adalah Syaikh Agus Salim dan Syaikh Ahmad Surkati.”[9]

E. Karya-Karya Muhammad Natsir
Dalam berpolitik untuk umat, Natsir telah mengukir karya yang hingga sekarang belum ada tandingannya. Baginya, keislaman akan selalu berjalan seiring dengan intelektualitas, profesionalitas. Partai Masyumi yang dibangunnya adalah representasi cara pandang itu. Baginya, berpartai bukan  buat kedudukan dan harta. Berpartai adalah buat memperjuangkan nilai-nilai kabangsaan dan keislaman yang mencakup intelektualitas-profesionalitas. Ini sisi lemah bangsa dan umat ini, hingga tertinggal dari bangsa lain.
Banyak tokoh bangsa dan umat kita saat ini yang lemah dalam  intelektualitas. Apalagi profesionalitas. Padahal, tidak akan ada bangsa dan umat yang dapat maju tanpa banyak karya tulis yang ditinggalkan oleh Muhammad Natsir, baik yang terkait dengan dakwah atau pemikiran. Sebagian telah diterbitkan dalam bahasa Arab dengan jumlah lebih dari 35 buah buku, diantaranya adalah Fiqhud Da’wah (Fikih Dakwah) dan Ikhtaru Ahadas Sabilain (Pilih salah satu dari dua jalan). Disamping itu masih banyak ceramah, riset, makalah Muhammad Natsir yang tersebar dan tidak dapat dihitung.[10]      

F. Jabatan yang pernah diduduki Muhammad Natsir
 Jabatan yang pernah diduduki Muhammad Natsir antara lain :
      1.  Ketua Jong Islamieten Bond, Bandung.
      2.  Mendirikan dan mengetuai Yayasan Pendidikan Islam di Bandung.
      3.  Direktur Pendidikan Islam, Bandung.
      4. Menerbitkan majalah Pembela Islam, dalam melawan propaganda antek-antek penjajah dan kaki tangan asing.
      5.  Anggota Dewan Kabupaten Bandung.
      6.  Kepala Biro Pendidikan Kota Madya (Bandung Shiyakush).
      7.  Memimpin Majelis Al Islam A’la Indunisiya (MIAI).
      8.  Menjadi pimpinan Direktorat Pendidikan, di Jakarta.
      9.  Sekretaris Sekolah Tinggi Islam (STI) Jakarta.
      10. Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP)
      11. Anggota MPRS.
12.Pendiri dan pemimpin partai MASYUMI (Majlis Syuro Muslimin Indonesia) Dalam pemilu 1955, yang dianggap pemilu paling demokratis sepanjang sejarah bangsa, Masyumi meraih suara 21% (Masyumi memperoleh 58 kursi, sama besarnya dengan PNI. Sementara NU memperoleh 47 kursi dan PKI 39 kursi). Pencapaian suara Masyumi itu belum disamai, apalagi terlampaui, oleh partai Islam setelahnya, hingga saat ini
13. Menentang pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Belanda dan mengajukan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini dikenal dengan Mosi Integrasi Natsir. Akhirnya RIS dibubarkan dan seluruh wilayah Nusantara kecuali Irian Barat kembali ke dalam NKRI dengan Muhammad Natsir menjadi Perdana Menterinya penyelamat NKRI, demikian  presiden Soekarno menjuluki Natsir.
      14. Menteri Penerangan Republik Indonesia.
      15. Perdana Menteri pertama Republik Indonesia.
16. Anggota Parlemen. Penentang utama sekulerisasi negara, dengan pidatonya “Pilih Salah Satu dari Dua Jalan; Islam atau Atheis” di hadapan parlemen,  memberi pengaruh yang besar bagi anggota parlemen dan masyarakat muslim Indonesia.
      17. Anggota Konstituante.
      18. Menyatukan kembali Aceh yang saat itu ingin berpisah dari NKRI.
19. Mendirikan dan memimpin Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), yang cabang-cabangnya tersebar ke seluruh Indonesia.
      20. Wakil Ketua Muktamar Islam Internasional, di Pakistan.
21. Aktif menemui tokoh, pemimpin dan dai di negara-negara Arab dan Islam untuk membangkitkan semangat membela Palestina.
22. Anggota Dewan Pendiri Rabithah Alam Islami (World Moslem League), juga pernah menjadi sekjennya. Natsir adalah pemimpin dunia Islam yang amat dihormati—Sekretaris Jenderal Rabitah Alam Islami meminta hadirin berdiri saat pak Natsir memasuki ruang sidang organisasi dunia Islam itu.
      23. Anggota Majelis Ala Al-Alamy lil Masajid (Dewan Masjid Sedunia).
      24. Presiden The Oxford Centre for Islamic Studies London.
25. Pendiri UII (Universitas Islam Indonesia) bersama Moh. Hatta, Kahar Mudzakkir, Wahid Hasyim. Juga enam perguruan tinggi Islam besar  lainnya di Indonesia.
26. Ketika presiden Soeharto kesulitan menuntaskan konforontasi  Indonesia-Malaysia (yang dimulai presiden Soekarno), berkat bantuan dan jasa hubungan baik Natsir dengan Perdana Menteri (PM) Tengku Abdul Rahman, Malaysia membuka diri menyelesaikan konfrontasi, dan Letjen TNI Ali Moertopo, Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto, diterima berunding pejabat Malaysia.
27. Berkat jasa hubungan baik Natsir dengan PM Fukuda juga, pemerintah Jepang bersedia membantu Indonesia setelah perekonomian negara ambruk di masa Orde Lama dan setelah pemberontakan G 30 S/PKI
 28.Karena jasa baik dan pengaruh ketokohan Muuhammad Natsir pula, Presiden Soeharto diterima di negara-negara Timur Tengah dan Dunia Islam. Natsir adalah anak bangsa Indonesia yang pernah menjadi tokoh Dunia Islam  yang begitu dihormati sepanjang sejarah Indonesia bahkan sampai sekarang.[11]

G. JASA DAN PENGHARGAAN MUHAMMAD NATSIR

      Atas segala jasa dan kegiatannya, maka Natsir pernah mendapatkan beberapa penghargaan antara lain :
  1. Pada tahun 1957 Natsir memperoleh bintang kehormatan dari Republik Tunisia untuk perjuangannya membantu kemerdekaaan Negara-negara Islam di Afrika Utara.
  2. Tahun 1967 dia mendapat gelar Doktor HC dari Universitas Islam Libanon dalam bidang politik Islam, menerima Faisal Award dari kerajaan Saudi Arabia.
  3. Tahun 1980 untuk pengabdiannya pada Islam dan Dr HC dari Universitas Sains dan Teknologi Malaysia
  4.  Tahun 1991 dalam bidang pemikiran Islam dan Dr HC dari Universitas Sains dan Teknologi Malaysia
Natsir memang termasuk tokoh langka. Ini diakui salah satunya oleh George McT Kahin, Guru Besar Cornell University. “Saat pertama kali berjumpa  dengannya di tahun 1948, pada waktu itu ia Menteri Penerangan RI, saya menjumpai sosok orang yang berpakaian paling camping (mended) di antara semua pejabat di Yogyakarta. Itulah satu-satunya pakaian yang dimilikinya, dan beberapa minggu kemudian staf yang bekerja di kantornya berpatungan membelikannya sehelai baju yang lebih pantas, mereka katakan pada saya, bahwa pemimpin mereka itu akan kelihatan seperti ‘menteri betulan’,” kata Kahin menceritakan sosok Natsir.[12]
Ia juga sangat bersahaja dan kadang-kadang gemar bercanda dengan siapa saja yang menjadi teman bicaranya. Mendapat ijazah perguruan tinggi dari Fakultas Tarbiyah Bandung. Mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Ia juga menerima gelar kehormatan akademik dari Universitas kebangsaan malaysia (UKM). Menjadi Perdana  Menteri dalam usia 42 tahun, dan kembali ke haribaan Ilahi pada 6 Februari 1993 di Jakarta. .[13]
Demikian sekilas catatan biografi Muhammad Natsir. Mudah-mudahan Anda tidak mencukupkan diri mengenal tokoh-tokoh Islam dari tulisan ini saja. Di tengah aktivitas Anda dapat menyisihkan sebagian waktu untuk berburu informasi  tentang para pejuang Islam. Masih begitu banyak nama-nama besar dalam dakwah Islam di Indonesia .
.

III. KESIMPULAN

 Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan antara lain :
  1. Bahwa perjuangan harus selalu ada seperti yang dilakukan oleh Natsir.
  2. Natsir merupakan salah satu pahlawan nasional yang patut kita teladani bersama dalam hal perjuanganya serta semangat berfikirnya untuk kemjuan bangsa dan Negara.
  3. Pada saat sekarang ini dibutuhkan tokoh-tokoh seperti Natsir untuk terus berjuang untuk memperjuangkan nasib bangsa.
  4. Kita harus selalu maju dan membela yang benar dan jangan takut dengan kedhaliman sama seperti semangat Natsir.
  5. Tentang kemunduran umat Natsir berpendapat bahwa penyebabnya karena anggapan bahwa pintu ijtihad telah tertutup.
  6. Untuk mengahadapi tantangan masa depan diperlukan sifat Istiqomah agar selamat dunia akhirat.
Demikianlah keimpulan yang dapat kami buat . Semoga makalah ini bermanfaat bagi dunia pendidikan pada umumnya dan khususnya bagi saya pribadi serta teman-teman, kritik dan saran sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini khususnya dari Ibu dosen pengampu mata kuliah Penelitian Sejarah














DAFTAR PUSTAKA

Natsir, Muhammad, Pendidikan, Pengorbanan Kepemimpinan Primordialisme dan Nostalgia, ( Jakarta, Media dakwah, 1987 )
Natsir, Muhammad, 70 tahun kenang-kenangan kehidupan dan perjuangan ( Jakarta, Pustaka Antara, 1978 ),
Natsir, Muhammad , Kapita Selekta, ( Jakarta, Van Hoeve, 1954 ),
Ramayulis, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta Quantum Teaching, , 2005 ),
Sholehuddin, Sugeng, Modernisasi Gagasan , Praktek dan Konsep Pemikiran Pendidikan Islam, (STAIN Pekalongan,2003),
http://andaleh.blogsome.com
http://qudrat.multiply.com/journal/item/54



[1] Ramayulis, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta Quantum Teaching, , 2005 ), h. 288
[2] Ibid, h. 289
[3] Ibid, h. 291
[4] Muhammad Natsir, Pendidikan, Pengorbanan Kepemimpinan Primordialisme dan Nostalgia, ( Jakarta, Media dakwah, 1987 ) h. 35
[5] Muhammad Natsir, 70 tahun kenang-kenangan kehidupan dan perjuangan (Jakarta, Pustaka Antara, 1978 ),h. 56
[6] Ibid, h. 58
[7] Ibid, h. 60
[8] Muhammad Natsir, Kapita Selekta, ( Jakarta, Van Hoeve, 1954 ), h. 87
[9] Ramayulis, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta Quantum Teaching, , 2005 ), h. 290
[10] http://dunia.pelajar-islam.or.id/?p=1312
[11]http://andaleh.blogsome.com

[12] Muhammad Natsir, 70 tahun kenang-kenangan kehidupan dan perjuangan ( Jakarta, Pustaka Antara, 1978 ),h. 32
[13] http://qudrat.multiply.com/journal/item/54