Jumat, 07 Desember 2012

Daulah Umawiyah


I.       PENDAHULUAN

Bangsa Arab pra-islam dikenal sebagai bangsa yang sudah memiliki kemajuan ekonomi. Letak geografisnya yang strategis membuat islam yang diturunkan di Arab (Mekah) mudah tersebar keberbagai wilayah. Sehingga bangsa arab banyak menguasai daerah - daerah di Eropa terutama setelah masa Khulafaur Rosidin yakni pada masa Daulah Umayah.
Pada umumnya Pasca Khulafaur Rosidin , pemerintahan Islam sering kali dipandang tidak sesuai lagi dengan syariat Islam. Peristiwa pemberontakan ( Bughot ) wali Syam Muawiyah Kepada Khlifah Ali bin Abi Tholib yang diperangi dalam perang Shiffin, kemudian berlanjut dengna kekisruhan negara pada masa kekholifahan Ali yang diakhiri dengan terbunuhnya sang Kholifah oleh Kaum Khowarij.
Mulai dari masa Abu Bakar sampai kepada Ali bin Abi Tholib dinamakan periode Khilafah Rosyidah, . para Kholifahnya disebut Khulafaur Rosidin ( Kholifah yang mendapat petunjuk ). Ciri masa ini mereka betul – betul menurut pada teladan Nabi, mereka dipilih secara Musyawarah atau secara Demokratis. Sedangkan pada Masa Daulah Umayah pemerintahan islam berbentuk Kerajaan. Kekuasaan diturunkan secara turun temurun.
Pada makalah ini, kami akan membicarakan tentang peradaban Islam pada masa Dawlah Amawiyah , sejarah berdirinya  dan pola administrasi politik pemerintahan yang diterapkan serta perluasan wilayah yang dicapai pada masa Dawlah Amawiyah.


II.    PEMBAHASAN

A.          Sejarah Berdirinya Dawlah Amawiyah ( Bani Umayah )
Sepeninggal Ali bin Abi Tholib , Gubernur Syam tampil sebagai penguasa islam yang kuat . Masa kekuasaanya merupakan awal kedaulatan Bani Umayah. Muawiyah bin Abi Sufyan adalah pembangun dinasti Umayah dan sekaligus menjadi kholifah pertama. Ia memindahkan ibu kota kekuasaan Islam dari Kufah ke Damaskus.
Sebelum mengadakan pembrontakan , Muawiyah terlebih dahulu menyusun kekuatan yang besar dengan jalan : Pertama, mempersatukan keluarga Bani umayah. Kedua, Menghasut daerah-daerah selikar Syam untuk ikut bergabung dengannya. Setelah itu dengan kekuatan yang besar  Muawiyah berangkat ke madinah , maka terjadilah perang Shiffin.[1]
Muawiyah tumbuh sebagai pemimin karier. Pengalaman politik telah memperkaya dirinya dengan kebijaksanaan dalam memerintah, mulai dari menjadi seorang pemimpin pasukan dibawah komando panglima besar Abu Ubaidah  ibn Jarah yang berhasil merebut wilayah palestina, suriah dan mesir dari tangan imperium Romawi yang telah menguasai ketiga daerah itu sejak tahun 63 SM, lalu ia pernah menjabat kepala wilayah di Syam yang membawahi suriah dan Palestina yang berkedudukan di Damaskus selama kira - kira 20 tahun semenjak diangkat Kholifah Umar bin Khotob.
Keberhasilan Muawiyah mendirikan Dinasti Umayah bukan hanya akibat dari Kemenangan diplomasi di siffin dan terbunuhnya Ali saja melainkan beberaa hal yang mendukung antara lain ;
  1. Adanya dukungan yang kuat dari rakyat Suriah dan Keluarga Bani Umayah .
  2. Muawiyah sangat bijaksana dalam menempatkan para pembantunya pada jabatan – jabatan penting.
  3.  Muawiyah memiliki kemampuan menonjol sebagai negarawan sejati, bahkan mencapai tingkat Hilm , sifat tertinggi yang dimiliki oleh para pembesar Mekah.[2]
Gambaran dari sifat mulia tersebut dalam diri Muawiyah setidaknya tampak dalam keputusanyan yang berani memaklumkan jabatan kholifah secra turun temurun. Dengan tujuan menegakkan wibawa pemerintahan serta menjamin integritas kekuasaan di masa yang akan datang, maka Muawiyah dengan tegas menyelenggarakan suksesi yang damai dengan pembaitan putranya , Yazid .
B.           Para Kholifah Bani Umaiyah
Dinasti Umaiyah berkuasa hampir kurang satu abad, tepatnya 90 tahun , dengan 14 orang kholifah. Dimulai oleh Muawiyah bin Abi Sufyan dan ditutup oleh Marwan bin Muhammad. Adapun urut-urutan Kholifah Bani Umaiyah adalah sebagai berikut ;
Muawiyah I bin Abi sufyan
Yazid I bin Muawiyah
 Muawiyah II bin yazid
Marwan I bin Hakam
Abdul Malik bin Marwan
Al walid I bin Abdul Malik
Sulaiman bin Abdul Malik
Umar bin Abdul Aziz
Yazid II bin Abdul malik
Hisyam bin Abdul Malik
Al walid II bin yazid II
Ibrohim bin Al Walid II
Marwan II bin Muhammad
Dari keempat belas kholifah tersebut yang terbesar adalah Muawiyah bin Abi Sufyan ( 661- 680 M ), Abdul Malik bin Marwan ( 685 – 705 ) , Al Walid bin Abdul Malik ( 705-715 ) dan Umar bin Abdul Aziz ( 717 – 720 M )
Muawiyah adalah bapak pendiri Dinasti Umaiyah. Dialah pembangun yang besar. Namanya disejajarkan dalam deretan Khulafaurrosidin. Bahkan Kesalahannya yang menghianati prinsip pemilihan kepala Negara oleh rakyat, dapat dilupakan orang karena jasa- jasanya yang mengagumkan.
Muawiyah mendapatkan kursi kekholifahan setelah Hasan bin ali bin Abi Tholib berdamai dengannya ada tahun 41 H. Umat Islam sebagaianya membaiat Hasan setelah ayahnya wafat . namun Hasan menyadari kelemahanya sehingga ia berdamai dan menyerahkan kepemimpinan umat keada Muawiyah bin Abi Sufyan sehingga tahun itu dinamakan Amul Jamaah ( tahun persatuan.) Muawiyah menerima kekholifahan di Kufah dengan syarat-syarat yang diajukan oleh Hasan bin Ali, yakni
  1. Agar Muawiyah tidak menaruh dendam terhadap seorang pun penduduk Irak.
  2. Menjamin keamanan dan memafkan kesalahan – kesalahan mereka.
  3. Agar pajak tanah negeri Ahwaj diperuntukan kepadanya dan diberikan tiap tahun.
  4. Agar Muawiyah membayar kepada saudaranya 2 juta dirham.
  5. Pemberian kepada Bani Hasyim harus lebih banyak dari pemberian kepada Bani Abdis Syam.[3]

C.           Pola Adminstrasi politik pemerintahan dan Ekspansi Wilayah
Memasuki masa kekuasaan Muawiyah yang menjadi awal kekuasaan Bani Umayah , pemerintahan yang bersifat Demokratis berubah menjadi Monarchiheridetis kerajaan turun temurun. Kekuasaan Muawiyah diperoleh dari kekerasan , dilomasi dan tipu daya , tidak dengan pemilihan atau suara terbanyak. Suksesi kepempinan secara turun temurun dimulai ketika Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia kepada anaknya Yazid. Muawiyah mencoba mencontoh Monarkhi di Persia dan Bizantium. Dia tetap menggunakan istilah kholifah , namun demikian dia memberikan interpretasi barun dari kata-kata itu untuk menggagungkan jabatan tersebut. Dia menyebut Kholifah Allah, dalam pengertian penguasa yang diangkat oleh Allah.
Ekpansi yang terhenti pada masa Usman dan Ali dilanjutkan kembali oleh dinasti ini. Dizaman Muawiyah Tunisia berhasil ditaklukan sampai ke Khurosan. Ekpansi ke Timur dilakukan Oleh Abdul malik. Ia mengirim pasukanya menyeberangi sungai Oxus dan berhasil menundukan Samarkand, Bukhora bahkan sampai ke India dan dapat menguasai daerah Punjab sampai ke Maltan.
Ekpansi Ke barat secara besar-besaran dilanjutkan pada zaman Al Walid bin Abdul Malik. Pada masa pemerintahanya yang berjalan kurang lebih sepuluh tahun ini tercatat suatu ekpedisi militer dari Afrika Utara sampai Benua Eropa pada tahun 711 M. Setelah Al Jazair dan Maroko ditaklukan Thoriq bin Ziyad menyeberangi selat dan mendarat disuatu tempat yang kenal dengan Gibraltar ( Jabal Thoriq ), tentara Spanyol dapat dikalahkan dan ibu kotanya Kordova dengan cepat dapat dikuasai.
Di zaman Umar bin Abdul Aziz , serangan dilakukan ke Prancis melalui pegunungan Piranee. Serangan ini dipimpin oleh oleh Abdurohman bin Abdullah Al Ghofiqi. Dengan keberhasilan ekpansi kebeberapa daerah, baik di Timur maupun di Barat, wilayah kekuasaan Islam pada masa Bani Umayah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi Spanyol, Afrika Utara, Syiria, Palestina, Al Jazair Irak, Afganistan Pakistan Uzbek dan Kirgis di Asia Kecil.
Disamping Ekpansi kekuasaan Islam , Bani Umayah juga banyak berjasa dalam pembangunan diberbagai bidang. Muawiyah mendirikan dinas Pos dan tempat – tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap serta perlengkapanya disepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dsan mencetak mata uang. Pada masanya jabatan khusus seorang hakim ( Qodhi ) mulai berkembang menjadi profesi tersendiri. Pada Masa Kholifah Abdul malik mengubah mata uang Bizantium dan Persia yang dipakai didaerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu Ia mencetak Uang tersendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab. Kholifah Abdul Malik juga berhasil melakukan pembenahan – pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan bahasa arab sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam.[4]
Meskipun keberhasilan banyak dicapai dinasti ini, namun tidak berarti bahwa politik dalam negeri dapat dikatakan stabil. Muawiyah tidak menaati isi perjanian dengah Hasan bin Ali ketika dia naik tahta. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid sebagai putra mahkota telah menyalahi isi perjanjian yang disebutkan bahwa persolan penggantian pemimpin diserahkan kepada pemilihan umat islam. Dengan demikian sehingga muncul gerakan-gerakan oposisi dikalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara .
D.          Runtuhnya Dinasti Bani Umaiyah
Ketika yazid naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah tidak mau menyatakan setia kepadanya. Yazid kemudian mengirim surat kepada Gubernur madinah, memintanya untuk memaksa penduduk mengambil sumpah setia kepadanya., dengan cara ini semua orang terpaksa tunduk kecuali Husein  bin Ali dan Abdullah bin Zubair. Perlawanan terhadap Bani Umayah dimulai oeh Husein . pada tahun 680 M ia pindah dari Mekah ke Kufah atas permintaan golongan syiah yang ada di Irak. Umat islam disitu tidak mengakui Yazid. Mereka mengangkat Husein menjadi Kholifah. Dalam pertempuran yang tidak seimbang di Karbela tentara Husein kalah dan Husein sendiri mati terbunuh. Kepalanya dipenggal dan dikirim ke Damaskus sedangkan tubuhnya dikubur di Karbela.
Hubungan pemerintahan dengan golongan oposisi membaik pada masa Kholifah Umar bin Abdul Aziz ( 717- 720 M ). Ketika dinobatkan menjadi Kholifah, dia menyatakan bahwa akan memperbaiki dan meningkatkan negeri yang berada dalam kekuasaan islam dari pada menambah perluasanya. Dia juga memberi kebebasan kepada penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaanya. Pajak diperingan. Sepeniggal Umar bin Abdul Aziz kholifah berada dibawah Yazid  bin Abdul Malik, penguasa yang satu ini terlalu gandrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kepentingan masyarakat, sehingga kerusuhan semakin terjadi dan merajalela hingga kholifah berikutnya yakni Hisyam bin Abdul Malik. Sebenarnya Hisyam bin Abdul malik adalah seorang kholifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi , karena gerakan oposisi terlalu kuat kholifah tidak berdaya mematahkanya.
Sepeniggal Hisyam, kholifah-kholifah Bani Umayah yang tampil bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini makin memperkuat gerakan oposisi. Akhirnya pada tahun 750 M, Daulah Umayah dapat digulingkan Bani Abbas yang bersekutu dengan Abu Muslim Al Khurasani. Kholifah terakhir Bani Umayah Marwan bin Muhammad melarikan diri ke Mesir  dan ditangkap serta dibunuh.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan dinasti Bani Umayah lemah dan membawanya kepada kehancuran. Faktor-faktor itu antara lain :
  1. Sistem pergantian Kholifah melalui garis keturunan dalah sesuatu yang baru bagi tradisia Arab yang lebih menekankan segi Senioritas.
  2. Latar Belakang terbentuknya kedaulatan bani Umayah tidak dapat dilepaskan dari konflik-konflik politik
  3. Adanya pertentangan keras antara suku-suku Arab Utara ( Bani Qoys ) dan Suku Arab selatan ( Bani kalb ) pada masa Bani Umayah mencapai Puncaknya.
  4. Lemahnya Pemerintahan Daulah Bani Umayah yang disebabkan oleh sikap hidup mewah dilingkungan Istana.
  5. Munculnya Kekuatan baru yang dipelopori oleh Keturunan Bani Abbas yang secara langsung menyebabkan hancurnya Bani Umayah.[5]


III. KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa setelah Khulafaur Rosidin, kekholifahan jatuh ketangan Bani Umayah dengan Kholifah Pertamanya bernama Muawiyah bin Abi Sufyan yang dulunya sebagai Gubernur di Syam . Muawiyah memindahkan ibukota Negara yang berada di Kufah ke Damascus, serta mengubah sitem pemerintahan yang dari Demokratis Menjadi Monarchiheredites.
Dinasti Bani Umayah berkuasa kurang lebih selama 90 tahun dimulai dari tahun 661 M – 750 M / 41 H – 132 H ) dengan empat belas Kholifah yang memimpinya secara bergiliran. Dari Kholifah Pertama sampai terakhir yang terkenal adalah Kholifah Muawiyah, bin Abi sufyan, Abdul malik Bin marwan serta Umar bin Abdul Aziz. Selama Dinasti Umayah ini perluasan wilayah Islam sampai ke Negara Spanyol, Maroko dan Aljazair bahkan sampai ke Punjab India.
 Bani umayah juga banyak berjasa dibidang pembangunan seperti mendirikan dinas Pos dan membuat bentuk mata uang sendiri serta meresmikan bahasa arab sebagai bahasa resmi Negara. Pada Masa Alwalid berhasil  membangun jalan raya , pabrik-pabrik serta masjid-masjid yang Megah.
Bani Umayah mengalami kemunduran setelah terjadi banyak pembrontakan dan kerusuhan yang terjadi sehingga menyebabkan Stabilitas Keamanan menurun lebih-lebih ketika pembrontakan yang muncul dari keturunan bani Abbas yang didukung  oleh Abu Muslim Al Khuroasani serta mendapat dukungan dari Kaum Syiah dan Bani Hasyim hingga Bani Umayah Jatuh dan digantikan oleh  Bani Abassiah.



DAFTAR PUSTAKA


Abdul Mutholib, Sejarah Kebudayaan Islam, ( Jakarta , Dirjenbinbaga Islam, 1996 )
Ahmad Amin, Islam dari Masa ke Masa, ( Bandung, CV. Rusyda, 1987 )
Atang Abdul Hakim, Metode Studi Islam,( Bandung ,Rosdakarya, 1999 0
Ali Mufrodi, Is;lam di Kawasan Kebudayaan Arab, (  Ciputat, Logos Wacana Ilmu, 1997 )
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, ( Jakarta: Grafindo Persada , 2006  )
















[1] Abdul Mutholib, Sejarah Kebudayaan Islam, ( Jakarta : Dirjenbinbaga Islam, 1996 ) , h.307
[2] Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, ( Ciputat: Logos wacana Ilmu, 1997 ), h. 70-71
[3] Ibid, h. 73
[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, ( Jakarta : Grafindo Persada, 2006 ) , h. 44
[5] Ibid, h. 48-49

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar